jump to navigation

M. Ersyad Hamda

Bismillahirrahmanirrahiim

saat sang matahari sedang menjalankan amanahnya kamis itu, Allah menetapkan qadha dari Lauhil Mahfudz di sisiNya menjadi qadhar…pada hari ke 26 di bulan Februari tahun 1987 itu Sang Ibu bertaruh nyawa tuk lahirkan putra pertamanya…sebentuk tubuh yang Allah putuskan tuk bersentuhan dengan alam bernama “dunia”. Pemuda 27 tahun bernama Artis Arjun dan istri sekaligus ibu dari putranya, Rahmi yang saat itu masih 21 tahun pun bahagia tak terkira, putra pertamanya lahir dengan selamat atas izin Allah. Putra itu membawa harapan mulia orang tuanya lewat namanya yang berarti “cerdas lagi terpuji”. suatu harapan yang berkali-kali membuat sang putra merasa berat tuk menyandang nama itu. sang putra merasa belum memenuhi harapan orang tuanya.

Hari-hari yang dilalui di masa kecilnya, seperti normalnya manusia lain, tidak banyak yang diingatnya. hanya kata-kata kerabat dan orangtuanya yang bercerita dengan nostalgia penuh canda tentang dirinya yang membuat dia bisa membayangkan masa kecilnya. “seorang bayi yang ingin cepat tuk lakukan apapun. berdiri saja hamda belum bisa, tapi dia sudah berpikir tuk berlari”, kata ibunya. “anak yang cengeng, bagaimana tidak?! sedikit-sedikit jatuh. tak lama setelah jatuh itu dia bangun lagi dan lari lagi. Dengan mudah saja ditebak, dia akan jatuh lagi. dan kamu tahu apa yang terjadi lagi kan…?” ucap ayahnya dengan sedikit tertawa. “umurnya masih kecil tapi sudah berpikir seperti orang dewasa…’papa jangan merokok ya…! nanti papa meninggal’ ucapnya saat masih berumur 3 tahun sambil menangis kepada ayahnya”.

Sang ibu menambahkan. “ada yang lebih lucu lagi, saat pertama kali di bawa ke kelas yang kuajar, saat itu hamda masih TK dan baru bisa baca, dia di kerumuni murid-muridku sambil di tanya dalam bahasa inggris, ‘what’s your name?’. tanpa ragu dia menjawab, ‘my name is hamda’. bagaimana tidak, aku tidak ingat kapan aku mengajarinya kata itu. mungkin dia memperhatikan murid-muridku yang belajar bahasa inggris saat di kelas sebelumnya.” ujar ayahnya. sang putra hanya bisa tertawa…dia sendiri tidak ingat tentang hal itu. yang dia ingat hanya bagian dikelilingi orang-orang yang berseragam saat itu, dan itupun samar-samar. Apalagi tentang apa yang pernah dia ucapkan…”mana saya ingat”, ucapnya membenarkan dirinya.

memasuki usia sekolah lebih awal, saat umur 3 tahun sudah ikut ibunya yang mengajar di TK di desanya. kemudian selang dua tahun saat penerimaan raport, dia memaksa ibunya tuk memberi dia lembar kertas yang sama dengan teman-temannya. sebuah lembar kertas yang dia sama sekali tak tahu cara menyebutnya dengan benar. “apa tadi namanya?…Ijajah?”. yang setelah itu dia juga memaksa orangtuanya tuk memasukkan dia ke SD seperti teman-teman sepermainannya yang bercerita padanya tentang pengalaman pendaftaran mereka.” mah…hamda SD yah! Si Riki udah SD, masa hamda ditinggal dia”.

TK Perguruan Islam yang dia tinggalkan walaupun merupakan surga bermain baginya tetap menjadi tempat tujuan setelah sekolah. dengan alasan “jemput mama” dia bermain di ayunan di dekat pagar dan main air danau yang ada di belakang sekolahnya. SD 02 batang Limau Hantu, sekolah yang namanya sampai sekarang tetap teringat karena namanya yang unik jadi tempat dia menghabiskan sebagian besar waktunya. belajar di kelas, bermain di jam istirahat dan dilanjutkan saat pulang adalah kesibukan barunya. nonton televisi adalah menu utama harian sampai-sampai untuk makan saja lupa. Alhamdulillah saat-saat ujian dilalui dengan aman olehnya, dan rangking kelas dalam 3 besar selalu didapatnya. saat tamat Sekolah Dasar, putra ini lulus dengan nilai tertinggi di sekolahnya yang terdapat di desa itu. “yah…lumayan siih…di kota kayaknya masih banyak yang lebih tinggi” pikirnya. sang ayah yang selalu menemani dia saat-saat jam shalat khususnya malam hari dan mengajarkannya hal-hal tentang Islam seperti bacaan shalat, doa-doa harian selalu mengingatkannya, bahwa apapun sekolah yang akan diambil putranya, dia harus meletakkan sisi religinya di salah satu prioritas utama.

Sang putra pun memilih tuk memasuki madrasah yang dikepalai ayahnya. Dalam hati dia merasa ada yang kurang, walaupun sekolahnya termasuk yang bagus di kecamatan itu, jika yang menjadi menanggung jawab sekolah adalah orangtua sendiri, “apa kata dunia?” Tahun pertama dia lalui dengan rangking umum yang selalu dicapainya. Tahun kedua dia utarakan keinginannya tuk melanjutkan SMU di Padang, ibukota. Sang ayah malah menawarkan, “kenapa tidak sekarang aja ke padang?” Pilihan yang ditawarkan ayahnya pun diambilnya. Hidup baru di ibukota jauh dari keluarga menuntutnya untuk mandiri. Memasak, mencuci dan berbagai kebutuhan sehari-harinya sudah menjadi hal biasa tuk dikerjakan sendiri. Bertemu teman-teman baru dan mengenal kehidupan berorganisasi pertama kali membuatnya merasa perbedaan sekolah di tempat baru ini benar-benar berbeda dengan sekolah lamanya. Fakta bahwa sekolah barunya merupakan salah satu madrasah yang terbaik di propinsinya memacunya. 10 besar hanyalah hasil terbaik yang dicapainya di tahun itu.

Tahun ketiga sekolahnya, selain aktif dikepramukaan, nilainya juga membaik dan peringkatnya juga mengikuti. 4 besar di kelas unggul saat kelulusan adalah hasil yang cukup memuaskan untuk seorang anak desa yang baru pindah ke kota. Sang putra memutuskan tuk mengambil kesempatan tuk mendaftar di sekolah idamannya. Sekaligus membahagiakan orangtua, pikirnya. Karena sekolah itu adalah sekolah yang diinginkan orangtuanya untuk putranya itu.

Adik-adiknya juga menunjukkan hasil yang memuaskan. Jejaknya pun diikuti adik-adiknya. Pergi ke ibukota, menyewa kamar dan sekolah di madrasah yang sama. Di SMU 1 ini dia mulai benar-benar mengenal apa itu persaingan. Peringkat kedua dan ketiga adalah hasil terbaiknya selama dua tahun pertama. Organisasi-organisasi sekolah dia ikuti. Liqo’ (mentoring) di sekolah sekaligus jadi tim nasyid andalan sekolah untuk kompetisi menambah daftar aktifitasnya. Kesempatan untuk ikut pertukaran pelajar ke luar negeri diikutinya. Test demi test dilewati bersama teman-temannya. Tahun kedua sekolahnya, hasilpun keluar, dia lolos seleksi nasional dan termasuk 5 orang utusan se-Sumatera untuk pertukaran pelajar itu. Tinggal menunggu kepastian Negara tujuan dan waktu keberangkatan. Tahun ketiga sekolahnya, dia ditempatkan di kelas 3 Ipa 7. kelas yang berisi saingan yang berat dalam hal akademis. Saat tengah semester keputusan keberangkatannya keluar. Jepang adalah Negara tujuannya dan 1 bulan lamanya. Setelah semua persiapan dilaluinya, orientasi yang melelahkan di Jakarta pun dilewatinya. Bertemu 13 teman-teman baru dari berbagai daerah di Indonesia. Akhir tahun itu berangkatlah mereka ke menuju Narita, Jepang.

7 jam di udara tak terasa karena lelahnya kondisi setelah orientasi keberangkatan membuat mereka tertidur. Disambut hangat oleh volunteer yang menjadi pemandu mereka, perjalanan dilanjutkan dengan orientasi kedatangan di hotel bandara. Tidak hanya Negara-negara Asia Tenggara ternyata teman-teman dari Mongolia bahkan Panama juga hadir. Orientasi kedatangan yang menyenangkan, teman-teman baru dan suasana Negara asing yang nyaman selama beberapa haripun dilewati. Tiba saatnya tuk berpencar menurut perfektur tujuan dan keluarga angkat masing-masing. Perfektur Wakayama adalah tujuannya bersama 2 siswa lain dari Philipina dan 1 orang dari Brunei. Keluarga Yamada adalah tujuannya. Di sambut di bandara Nanki Shirahama oleh keluarga baru benar-benar tak terlupakan baginya. Hari-hari bersama keluarga sederhana dengan 3 anak sangat menyenangkan. Berangkat ke sekolah dengan sepeda di suhu dingin sekitar 3 derajat celcius bahkan lebih rendah setiap hari adalah tantangan yang dihadapinya. Teman-teman di sekolah baru yang menganggap dia sebagai turis dari daerah tropis dan menjadikannya sebagai proyek bahasa inggris adalah suasana baru yang dihadapinya.

Suasana itu tidak berlangsung lama. 2 minggu saja, selanjutnya program baru menunggunya di ibukota Negara asing itu. Perpisahan dengan keluarga yang dilakukan di pantai saat salju turun adalah saat yang tak terlupakan. Perjalanan keliling sebuah gunung yang terkenal di mancanegara adalah program selanjutnya. Mengunjungi tempat maintenance pesawat terbang sampai kunjuingan ke tempat jalur pengujian Maglev (Magnet levitation) train yang kecepatannya mencapai 550 km/jam pun dilakukan. Group discussion tentang hubungan antarnegara, bagaimana mengatasi konflik yang ada, tukar menukar info tentang kultur antarnegara adalh aktifitas sehari-hari. Puncaknya dengan sebuah acara exhibisi kultural semua Negara yang bertajuk Jr. Summit 2003 menjadi penutup. Diikuti pesta perpisahan yang dipenuhi canda tawa nostalgia pejalanan dan isak tangis perpisahan hari berikutnya. Beberapa kejadian yang tak kan dilupakan seumur hidupnya juga terjadi saat itu.

Sekembali ke Negara kampung halaman ujian semester hari berikutnya menunggu. Peringkat 35 adalah hasil yang masuk akal setelah waktu-waktu belajar yang ditinggalkannya. Semester kedua, orientasinyapun berubah menjadi persiapan menuju perguruan tinggi. Bimbingan belajar yang sudah 2 tahun diikutinya serasa kurang cukup. Setelah ujian semester dan ujian akhir selesai, tanpa menunggu hasilnya dia memutuskan tuk langsung menuju pusat persaingan menuju perguruan tinggi, Bandung. Persiapan ujian diambilnya di kota ini.

Usahanya di jawab oleh Sanag Maha Kuasa. Alah SWT. FKU UNPAD menjadi qadharnya. Mengikuti pendaftaran samapi OSPEK di suasana baru buat dia harus beradaptasi lagi. Saat yang bersejarah dalam hidupnya di malam itu saat OSPEK, teman-temannya seangkatan memutuskan dia sebagai penanggung jawab angkatan. Sebuah tugas yang sampai sekarang masih diembannya dan berharap melakukan yang terbaik untuk teman-temannya.

Selama 3 tahun dilaluinya di kampus barunya, berbagai aktifitas organisasi diikutinya. Walaupun dengan nilai akademik yang pas-pasan, dia berniat melakukan sesuatu untuk teman-temannya melalui kegiatan organisasi yang di amanahkan padanya.

Selain mengikuti organisasi intra-kampus, beberapa organisasi ekstra-kampus juga diikutinya. Seminar-seminar mulai dari seminar ilmiah sampai dengan bisnis diikutinya dengan niat bekal tuk masa depan. Dalam setiap kegiatannya, diniatkan untuk Tuhannya, yang walaupun terkadang dia lupa dan Allah selalu mengingatkannya dengan cara yang tak terduga, mulai dari temannya yang secara langsung mengingatkan atau peringatan berupa ujian dari Tuhannya. Putra ini masih haus akan perbaikan diri, atas segala keterbatasan dan kekurangannya, dia tetap ingin berbuat lebih untuk sekelilingnya, dan orangtuanya serta demi Tuhannya.

Comments»

1. andisinan - April 6, 2008

Wah, panjang sekali tulisannya… Hebat, bisa nulis panjang begini. Keep writing…

2. Hamda - April 7, 2008

(>_<)..kepanjangan ya dok?…
masi bingung awalnya..CVnya katanya dalam bntuk narasi…tapi g tau apakah “tag” untuk CV kita yang sudah ada atau “reproduce” dalam bentuk narasi cv yang sudah ada…jadinya kupilih opsi terakhir…

3. diyoth - April 12, 2008

panjang.
dan (teuteuup..) ber-IRAMA

4. Hamda payakumbuh - May 14, 2008

Assalmualaikum
Bang, panjang ya CV nya??
udh co ass bg????