jump to navigation

Tausyiah

mangga…

Comments»

1. diyoth - April 9, 2008

Ga Penting, Tapi Penting
Oleh : Hendro Kasmanto

Tmen2, kumaha, damang? Pada lagi ngapain? Yang jelas mah, pada lagi baca tulisan ini kan? Ehi awalnya kalimat-kalimat tanya yang ga penting. Tapi, iya gitu ga penting? tapi, bener juga ya, ga penting. Tapi, kenapa atuh dimuat dalam tulisan ini, kayaknya mah penting!?

Tuh kan muter-muter ga penting. Bener, kata-kata di atas emang kalo berdiri sendiri, ga penting. Tapi kalo diliat dari keseluruhan tulisan ini, penting. Ia sebagai pembuka, pemancing, penyentuh perasaan para pembacanya.. itu penting.

Terkadang kita tidak mau memperhatikan hal-hal yang kecil, tersilap oleh hal-hal yang besar atau menionjol. Bagai sebuah baut kecil dalam mesin mobil. Kecil, tapi penting. Bisa jadi tanpa baut kecil itu, sang mobil masih bisa melaju, tetapi tunggu saja, suatu saat mesin mobil itu akan rusak, berantakan, hancur lebur berserakan, berantakan (Tragis amat, maaf).

Contoh nyata, saat kita bicara dengan siapa saja, jika kita tidak memperhatikan intonasi, gaya bicara, nada, pemilihan kata, lawan bicara, sikap, deelelesbe. Mesti jadi berabe. Mungkin banyak orang berpendapat bahwa berbicara, ya bicara saja; bodo amat, ini kan lidah, lidah gue, bicara, bicara gue. Hal-hal di awal paragraf ini mah memang kecil. Tanpa menggunakan hal tersebut, pembicaraan masih bisa berlanjut.

Tapi, bener gitu??? Bukankah manusia juga sudah Alloh lengkapi dengan perasaan (psikologis) yang selalu menyertai dalam setiap aktivitas apapun. Hal kecil ini pula yang dianggap nggak penting. Maka, mungkin banyak orang juga yang dalam interaksinya (eg.: berbicara) tidak memperhatikan sisi psikologis. Maka, bisa jadi lawan bicara kita tidak merasa betah berbicara dengan kita. Bahkan timbul konflik. Naudzubillah.

Banyak contoh nyata yang memperhatikan hal yang kecil, seperti Ir. Soekarno dengan mengatur gaya bicaranya bisa mengguncang dunia; Habiburrahman El-Shirazy dengan sentuhan religinya melalui pena bisa mengundang decak kagum kita, atau senyuman ikhlas temen kita membuat kita ketagihan akan senyumnya. Pokoknya mulai sekarang dalam seala aktivitas kita, kita mulai perhatiin hal-hal yang kecil.

OK, ga penting, tapi penting. Tetep perhatiin hal-hal yang kecil, karena hal kecil itu adalah bagian tak terpisahkan dari hal yang besar.

NB: ada berapa kata penting dalam tulisan ini? (penting gitu?) “v”

2. d.setyadi - April 11, 2008

…SEORANG TUKANG KAYU…
Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah
perusahaan konstruksi real estate.
Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan.
Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya,
tetapi keputusan itu sudah bulat.

Ia merasa lelah.
Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian
bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya.
Ia lalu minta pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk
dirinya.
Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu.

Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa.
Ia ingin segera berhenti.
Pikirannya tidak sepenuhnya dicurahkan.

Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu.
Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya.

Akhirnya selesailah rumah yang diminta.
Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik.
Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak
begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia
menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu.
” Rumah ini adalah rumah kamu,” kata sang pemilik perusahaan.
” Hadiah dari saya sebagai penghargaan atas pengabdian kamu selama ini.”

Betapa terkejutnya si tukang kayu.
Betapa malu dan menyesalnya.
Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk
dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama
sekali.

Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya
sendiri.
Itulah yang terjadi pada kehidupan kita.
Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang aneh.

Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang terbaik.
Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup, kita tidak memberikan
yang terbaik.

Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan
dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan
sendiri.
Seandainya kita menyadarinya, sejak semula kita akan menjalani hidup ini
dengan cara yang jauh berbeda.

Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu.
Renungkan rumah yang sedang kita bangun.

Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap.
Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya
mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup.
Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini.
Hidup adalah proyek yang kita kerjakan sendiri.

Keberhasilan yang diraih, atau kegagalan yang menimpa dapat ditelusuri
jauhke dalam diri kita masing-masing. Karena KITA-LAH YANG MENJALANI semua
ini.Bukan orang lain.

” Seorang bijak pernah mengatakan demikian :
Amatilah pikiranmu, karena akan menjadi ucapanmu.
Amatilah ucapanmu, karena akan menjadi tindakanmu.
Amatilah tindakanmu, karena akan menjadi kebiasaanmu.
Amatilah kebiasaanmu, karena akan menjadi karaktermu.
Amatilah karaktermu, karena akan menjadi nasibmu.
Di atas semua itu, amatilah dirimu sendiri.
Hanya mereka yang mengenal dirinya-lah yang akan mencapai kebahagiaan yang
sesungguhnya. “

3. hendrokasep - April 12, 2008

Membangun Generasi “Fahri”
Oleh : Hendro Kasmanto

Adeuh…, yang kebayang apa atau siapa nih? bAdam, mungkin kebayang andai bisa dicintai banyak kaum Hawa. Bagi kaum Hawa, mungkin kebayang , seandainya mendapat seorang Fahri. Benul (benar + betul)?
Fahri, seorang tokoh dalam novel “Ayat-Ayat Cinta” karya Kang Abik (pangilan Habiburrahman El-Shirazy) yang disajikan pula dalam media film. Kalo baru nonton filmnya , tau nggak kenaa Sang Fahri begitu teramat sangat digandrungi beberapa bidadari dunia? Nah, dalam novelnya dibahas tuntas, tas, tas…hal yang mendasari kenapa Aisyah, Maria, Nurul, dan Nouramenaruh hati kepada pemuda Indonesia, wong Deso ini.
Ini sekelumit ceritanya: mulai dari Fahri adalah mahasiswa S-2 Al-Azhar, Cairo. Bayangin aja, S-2 bo!! Di luar negri pula. Trus, Fahri juga jadi murid kesayangan seorang Mufti (tingkatanatas dari Ustadz) dalam belajar membaca Al-Qur’an. Cara membaca Al-Quran dalam riwayat Imam yang lain, bukan yang seperti kita baca. Ternyata, syaratnya mesti dah hafal 30 juz dngan riwayat satu Imam. Berari Fhri ini Al-Hafidhz (orang yang hafal Al-Qur’an). Subhanaloh kan? Diantara mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Cairo, Fahrilah sosok Sang pemimpinnya. Kayaknya ini yang bikin Nurul kesengsrem. Nah lo!!
Di flat-nya, Fahri juga orang yang dituakan, padahal belom tua-tua amat. Tempat curhat, orang tua kedua. Keikhlasan dalam beramal menjadi dasar segala aktivitasnya baik kepada Noura yang selalu didzholimi Ayah “palsu”-nyaataupun kepada Maria yang selalu ditawarkan pertolongan. Tetangganyapun merasakan keberadaan Fahri ini, btapa tidak, rumah Maria pernah diperbaikinya dan orang tua Maria pernah dikasih kado ulang tahun.
Fahri juga berani berkata kebenaran dan tetap sopan, terbukti saat tragedi dalam bus yang ternyata bisa mengenalkannya kepada Aisyah,bahkan orang Mesir yang marah itupun berbalik kagum da malu. Mungkin ini juga didukung oleh fisiknya yang ga Cuma ganteng tapi bugar juga, karena memang jago dan rajin berolahraga. Fahri juga mandiri, penerjemaah adalah profesinya yang cukup bisa membiayai kehidupannya. Subhanallohnya juga, Fahri selalu menjaga kesucian hati dan dirinya. Pandangannya selalu terjaga dari yang haram, ga mau bersentuhan dengan lawan jenios yang bukan muhrimnya. Kita tahu semua kalo Fahri ga pacaran dalm mengejar jodohnya; ta’aruf (bukan kata lain dari pacaran), langsung menikah (tentu dengan persiapan yag amat sangat matang sekali) dan juga setia (poligaminya adalah bagian dari kesetiaan pada istrinya, betulkan? “Bayi dalamkandunganku ini membutuhkan Ayah, Fahri…”). subhanalloh…perfect…sempurna…!!!
Temen2, ada yang nganggap ini mah Cuma tokoh yang dibuat-buat, hanya cerita dalam novel, wayang yang bisa digini-gitu oleh dalangnya? Kang Abik bilang sih ini bukan hayalan, ini nyata, bahkan banyak ditemukan. Kalo Salim A. Fillah (penulis juga) berpendapat bahwa Fahri itu ya penulisnya sendiri, Kang Abik. Atau, malah kamu, yang baca tulisan ini adalah Fahri itu!?
Nah, mau kanjadi kayak Fahri, mau kan dapetin kayak Fahri? Bagi yang mau jadi kayak Fahri, mulailah dari yang kecil, yang deket, yang bisa dilakukan sekarang dan paksakan. Lalu, terus kriteria-kriteria di atas dipenuhi semua. Ga ada yang mustahi, karena semua ciri Fahri di atas adalah sikap yang bisa dibangun atau dibentuk. Cobalah! Bagi yang mau dapetin kayak Fahri, kayaknya mesti jadi Aisya dulu deh, intinya mah mesti ngimbangin (se-kufu) Fahri juga dong.
OK, marilah kita bangun generasi Fahri. Generasi pengusung kebaikan. Pelaksana ISLAM. Selamt menjadi Fahri dan selamat mendapatkan Fahri !!!

4. diyoth - April 12, 2008

this is officially for myself.

IKHLAS KOK ABOT YA… by Mbah Dipo

Ikhlas, satu kata yang gampang diucap tapi susah dipraktekkan. Padahal ini menjadi salah satu syarat penting diterimanya satu amalan. Karena amal yang yang diterima oleh Gusti Allah itu, selain harus ada contohnya dalam agama, harus dilandasi rasa ikhlas ini. Lha ini yang susah.

Amalan yang ikhlas adalah amalan yang ditujukan hanya untuk mencari ridho dan rahmat Allah. Tidak ada tujuan lain kecuali itu saja. Jadi amalan ikhlas itu sebenarnya bertendensi juga, yakni mencari ridho dan rahmat Allah. Ada orang yang berpendapat, bahwa jika kita beramal agar kita masup surga maka amalan kita itu gak ikhlas. Soalnya masih ada embel-embel selain Allah, dan masih ada keniatan buat makhluk, yakni surga. Hmmm, apa betul begitu ya?

Ada juga yang mengatakan, bahwa jika kita beramal soleh dan menjauhi maksiat karena takut masup neraka, maka itupun gak ikhlas. Karena ada ketakutan kepada selain Allah, yakni neraka.

Coba perhatikan ayat ini : “Berlombalah (bersegeralah) kepada ampunan dari Tuhan kalian dan (bersegeralah) kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi…” (S. Al Hadid ayat 21). Ha wong kita ini disuruh berlomba dan bersegera menggapai surga. Dan ini perintah Allah. Tentunya menggapainya dengan amal, bukan dengan ngowoh, ngeces, ngorok sehari penuh. Maka beramal dengan berharap masup surga itu tetap masih dalam koridor ikhlas, yakni menggapai ridho Allah dan Rahmat-Nya yang diwujudkan dengan Surga.

Adapun takut kepada neraka itu tertuang didalam surat Al Baqoroh ayat 24 : “Maka jika kalian tak memperbuatnya, dan kalian tidak akan bisa memperbuatnya (yakni membuat ayat/surat tandingan Al Qur’an) maka takutlah kalian kepada Neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, disediakan bagi orang yang kafir.”

Takut neraka adalah perintah Allah pada ayat itu. Maka takut kepada neraka tidaklah mengurangi kadar ikhlas satu amalan. Karena takut kepada neraka adalah satu perintah. Ha wong gak usah diperintah takut saja, kalo sudah meruhi sendiri, nanti lak pating jondhil. Girap-girap gak karuan…

Yang susah itu adalah menjaga agar amalan kita tak bertujuan kepada makhluk. Riya’ (pamer), sum’ah (suka kemasyhuran), umuk, ujub (mengherani diri sendiri) hasad, dlsb… merupakan penyakit hati yang bisa merusak amal. Kadang-kadang setelah kita beramal, kita merusaknya secara gak sadar dengan ucapan-ucapan kita. Contohnya begini:

1. Seorang ibu-ibu tanya pada seorang ustadz di satu pengajian yang dihadiri ratusan peserta : “Tadz mau nanya, tadi malam pas saya sholat tahajud, ha kok ada kecoa liwat. Saya digremeti sampai kegelian. Tapi saya tetap coba tenang. Namun tetep agak terganggu… saya khawatir sholat saya gak diterima Allah, Gimana ini ustadz? “ Pertanyaan biasa, tapi berpotensi menjadi ajang umuk tentang sholat tahajudnya, tentang ketegarannya ngadepi gremetan kecoa dan tentang kelembutan hatinya yang kawatir amalnya gak diterima. Kita gak bisa langsung menghukumi, tapi simbah bilang ini berpotensi umuk dan pamer amal.

2.Pas sedang adem-ademnya liburan bareng di puncak, satu rombongan orang sedang membicarakan dahsyatnya hawa dingin disitu. Tiba-tiba ada yang nyeletuk, “Wah ini semua gak seberapa. Waktu saya wudhu di dekat Ka’bah pas haji kemaren, gigi saya hampir kemrutuk saking dinginnya. Tapi saya tahan. Nah jamaah yang lain itu pada ndrodog kedinginan…” Ungkapan ini biasa juga, namun berpotensi umuk, nunjukin bahwa dia sudah munggah kaji dan kuat ngadepi dingin.

3.Seorang mubaligh sedang menerangkan pada peserta pengajian, tentang bab tawadhu, dia bercerita, “Saat saya dipanggil bapak presiden ke istana kemarin, saya gak nyangka, saya yang dhoif ini diundang oleh beliau. Bahkan pada kesempatan itu saya diberi waktu untuk memberi tausiyah…” Sebenarnya ingin bercerita tentang tawadhu’, namun dia mencontohkan dirinya. Ini justru berpotensi umuk dan ujub. Kalo salah niat, bisa dipakai buat naikkan tarip amplopnya. Ha wong pernah ngisi pengajian di istana presiden je… mosok taripnya biasa, kudu punjul..

Lha, riya’ itu memang musuhnya ikhlas. Padahal riya’ itu syirik kecil. Makanya kita gak pernah tahu, amalan mana dari yang sudah kita amalkan itu yang diterima dan diganjar oleh Allah. Sudah berapa banyak ganjaran dan pahala kita dengan amalan kita… semua gak tahu.

5. adianfitria - April 12, 2008

MANGKUK YANG CANTIK, MADU, DAN SEHELAI RAMBUT

Rasulullah SAW, dengan sahabat-sahabatnya Abakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a., dan ‘Ali r.a., bertamu ke rumah Ali r.a. Di rumah Ali r.a. istrinya Sayidatina Fathimah r.ha. putri Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut terikut di dalam mangkuk itu. Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (Mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut).

Abubakar r.a. berkata, “iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut”.

Umar r.a. berkata, “kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Utsman r.a. berkata, “ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan ber’amal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

‘Ali r.a. berkata, “tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumanya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Fatimah r.ha.berkata, “seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yangtak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Rasulullah SAW berkata, “seorang yang mendapat taufiq untuk ber’amal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, ber’amal dengan ‘amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat ‘amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Malaikat Jibril AS berkata, “menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri; harta; dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Allah SWT berfirman, “Sorga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat sorga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju sorga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

6. doktertinul - May 23, 2008

hendro kasep??????

HALO?
hahahaha hendro hendro…

7. doktertinul - May 23, 2008

wah di, keren post nya…feel beautiful huh? yeah beautiful is only if we recognize islam well and go on the rules to be a honest and integrated person :D