kata Residen
oleh Bangbang Aryanto C1004114
Bagi mahasiswa kedokteran tingkat 4, istilah ko-ass memang tidak asing lagi. Ko-ass merupakan salah satu tahapan wajib dilalui untuk menjadi seorang dokter umum. Dengan perbedaan tempat belajar, berjumpa pasien secara langsung, serta tidak adanya bangku kuliah saat ko-ass, mahasiswa yang baru lulus dituntut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Maka sebagai tahap aklimatisasi, penulis mencoba memaparkan hal-hal yang harus diperhatikan menjelang ko-ass, dengan mewawancarai seorang dokter di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Pandji Irani Fianza dr., (biasa disapa dr. fifi)
Penulis mencoba menyimpulkan hasil wawancara tersebut sebagai berikut:
Jadwal Belajar
Sebenarnya tidak dapat dibandingkan keh. mahasiswa FK dulu dengan sekarang, karena adanya perbedaan sistem. Sistem lama menggunakan SKS dengan 1 SKS berarti 1 jam tatap muka alias kuliah dengan dosen, 1 jam belajar di rumah. Kesadaran untuk belajar sendiri sangatlah penting, karena sistem belajar saat itu tidak ubahnya saat belajar di SMU. Saat mahasiswa dibiasakan belajar 2 jam sehari (minimal). Sistem baru yaitu PBL (Problem Base Learning) mengharuskan mahasiswa untuk mencari bahan kuliah sendiri dan diharapkan memiliki pemahaman terhadapnya. Begitupun dengan Ko-ass.
Sistem belajar
Ketika mahasiswa, kita terbiasa dengan mempelajari suatu penyakit, mengetahui etiologi, patogenesis, patofisiologi, diagnosis, dan lain-lain. Pola pikir mahasiswa dibentuk untuk mempelajari suatu kasus. Berbeda dengan Ko-ass, mahasiswa (ko-ass) dituntut untuk melakukan hal yang sebaliknya. Pasien datang tidak mengeluhkan penyakit, namun gejala dari suatu penyakit. Hal ini yang membuat ko-ass berpikir untuk melakukan hal yang berbeda contohnya banyak membuat differential diagnosis terhadap suatu gejala.
Saat Ko-ass, jadikanlah pasien sebagai sumber ilmu. Kita dituntut untuk banyak melihat kasus pada pasien, karena pada kenyataannya, salah satu gejala tidak lagi menjadi suatu ciri khas pada suatu penyakit tertentu atau mungkin berbeda dengan literatur yang dipelajari. Hal ini diakibatkan lingkungan, penjualan obat yang bahkan akibat tindakan dokter sendiriSaat menjadi spesialis, kita merasa ilmu saat menjadi residen menjadi nol kembali, karena merasa banyaknya penyakit dengan gejala yang beragam sehingga dituntut untuk lebih banyak belajar lagi terutama pada pasien. Guru-guru besar pun mengakui hal tersebut.
Hal lain yang harus diingat saat menjadi ko-ass, bersikaplah sebagai dokter. Pasien adalah seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan, jangan dijadikan sebagai objek.
***
Laporan oleh: Denny Setyadi
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
Sebelum kita masuk dalam obrolan kita, apa kita sudah tahu siapa itu chief residen ? Chief residen adalah seorang residen pada sebuah bagian dalam Rumah Sakit Umum Pendidikan yang mendapatkan tanggung jawab yang lebih untuk mengoordinasikan residen-residen lain yang sedang belajar pada bagian yang sama dengan orang tersebut, C.R. sama dengan ketua residen, biasanya residen yang sudah semester dua akhir (bagian anestesi, setiap bagian memiliki ketentuan yang berbeda), dan sedang menyelesaikan thesis.
Di pagi hari yang masih sunyi senyap diadakan pembicaraan jarak jauh dengan seorang C.R. dari bagian anesthesi Rumah Sakit Umum Pendidikan Hasan Sadikin. Beliau adalah Budiana Rismawan, dr., yang biasa dipanggil dr. Budiana atau kang Budiana, seorang C.R. bagian anestesi yang sekarang sudah masuk semester empat dalam bagian anestesi Rumah Sakit Umum Pendidikan Hasan Sadikin.
Dan obrolan pun di mulai…………….. kita langsung aja yah…
Menurut beliau saat koass itu belajarnya sama saja dengan saat mahasiswa, namun blajar teori-teorinya, sekaligus praktiknya lebih banyak dan harus mencari-cari kesempatan untuk belajar praktik-praktik tindakan langsung lebih sering dan leboih banyak lagi.
Sementara itu saat koass kita walaupun harus mencari sebanyak-banyaknya praktik-praktik kita juga seharusnya tetap menjaga hubungan yang baik dengan sesama koass lainnya juga dengan orang-orang yang terdapat di dalam Rumah Sakit. Dengan sesame koass yang lain kita harus tetap menjaga hubungan baik, karena kita juga kan masih perlu banyak ilmu lainnya yang mungkin agak susah kalau semuanya itu kita cari sendirian, “kan lebih enak kalau kita bagi-bagi ilmu dan kalau saat ujiannya jadi kita bisa berusaha semaksimalmungkin dengan bantuan teman-teman lainnya juga” menurut kang Budiana.
Nah, kalau saat ujian, kalau di bagian anestesi RSUP Hasan Sadikin bentuk ujiannya langsung ada kasus, yang selanjutnya di bahas oleh koass tersebut dengan dipresentasikan, yang lalu didiskusikan bersama dengan konsulen, serta penilaian langsung dari konsulen penguji tersebut.
Menurut kang Budiana saat koass kita paling minimal harus punya peralatan-peralatan pemeriksaan fisik secara lengkap, kalau mahasiswa sebut Head to Toe exam. Sehingga, kalau kita punya alat-alat tersebut berarti kita bisa langsung praktik, tetapi alat-alat tersebut tetap di jaga masing-masing jangan sampai hilang. Karena, saat koass sering alat-alat mahal seperti stetoskop yang sudah beli mahal-mahal hilang. Biasanya hilang karena terbawa orang lain dan tertinggal yang akhirnya jadi terbawa orang lain juga.
Berhubung sekarang ini sudah sistem PBL (Problem Based Learning), kita kan dituntut berbicara dengan referensi yang jelas keberadaannya. Jadi saat koass kita tetap harus terus punya buku-buku pegangan yang jelas terpercaya, “kang Budiana sendiri justru fotokopi buku-buku asing dari koass yang beliau kenal saat di bagian anestesi”. Dan juga kalau bawa-bawa buku besar kan sulit, menurut kang Budiana lebih bagus kalau kita ringkas dulu jadi buku-buku ringkasannya yang kita bawa.
Setelah buku-bukunya sudah punya, menurut kang Budiana idealnya koass sekarang harus praktik langsung lebih banyak lagi pada kenyataan pasien yang ada sekarang, karena mahasiswa sekarang sudah banyak belajar klinis saat pendidikan sarjana kedokteran selama menjadi mahasiswa.
Selama menjadi dokter muda kita harus sering belajar praktik langsung dan tetap serius untuk belajar, karena kesempatan untuk praktik langsung yaitu saat koass. Kalau main-main tergantung bagiannya, kalau di bagian-bagian yang jaga agak susah waktunya, karena kita sudah harus masuk pembekalan koass lagi di esok harinya. Bagian yang agak santai seperti bagian kulit, mata, dan bagian-bagian lainnya yang tidak ada tugas jaganya.
Seperti kata-kata kang Budiana “banyak-banyak sering blajar praktiknya secara langsung,dan harus jaga diri supaya tetap serius menjalakankannya; dengan sistem sekarang: kesempatan untuk praktik langsung minta coba melakukannya, klo gak ntar gak kebagian. Kerjakan yg harus di kerjakan. Aktif diri lgsg terutama saat jaga biasanya banyak tindakan. Yang harus di lakuin koass ada daftar bahannya di koass sblmny dan seharusnya masing-masing bagian harusnya ada daftarnya. Praktik-praktik seringnya di bagian bedah, kebidanan, anestesi. Kita harus pinter-pinter untuk minta ngelakuin tindakan, karena kita nanti rebutan dengan residen-residen yang masih semester semester 1/2, paling nggak teorinya harus tahu juga. Jadi kita sudah harus siapin teori-teori yang bakal kita lakuin tindakannya saat koass.”
***

wah,, kata2 dari residen nya belum ya??
semangat ya teman2!!
ditunggu share cerita residen nya lho,,
deniiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
*it’s kinda useless calling rarely-blogging-someone via comment blog*
babaaaaaaaaaaaaaang ceritanya keputuuuuuuuuuuuuuus…………..
aaaaaaah,, tau deeeh mau bikin penasaran yaaaaaaaaa??
apa yang keputus???????? Itu doang yang ditanyain. Data detail kan udah pada bagian wawancara dokter!!!!!!! Jadi beliau dr fifi memberikan prinsipnya. Gitu lohhhhhhh. Ngomong2 kamu ngatain saya yot???
Oh iya ya kok putus????? Sory
Udah disambung lagi kok.. yang lanjutan dari babang udah saya tambahkan ke halaman ini. Makasi yang bang wawancaranya.. ^_6
oh iya bener. makasih ya ndra
wah diyoth, diyoth kau membuat aku desperate…… Udah slalu ditolak cewe, sekalinya nulis ERRORRR……. peuyeum bandung… tape dech
cieh babang nulis loooh eheheh.. (naon sih :p)