jump to navigation

kata Dokter yang udah praktek

 

Laporan dari Bangbang Aryanto

 

Disela-sela tutorial (kuliah) angkatan 2004 dan praktek laboratorium angkatan 2005, penulis “mencuri” waktu seorang dosen untuk mewawancarainya mengenai judul diatas. Walaupun singkat, tapi hasilnya lumayan loh sebagai bahan pertimbangan bagi seorang mahasiswa kedokteran untuk mengetahui kehidupan ko-ass.

Narasumber kita adalah Henhen dr.,

-)

beliau adalah seorang staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran yang cukup dikenal. Selain tinggi, besar, beliau ramah terhadap mahasiswa, sehingga penulis tidak segan-segan meminta waktu untuk berbincang-bincang dengan beliau. Wawancara ini berlangsung singkat tapi penulis mencoba untuk menyimpulkan dan menceritakannya dengan sebaik mungkin tentu dengan sedikit modifikasi… he.. he.. maklum, masih amatir.

Bangbang (Bg) : Selamat siang dok, maaf menggangu waktunya.

Henhen dr. (dr) : Oh gak apa-apa, nyante aja kali..

Bg : Sebagai seorang dokter, tentu pernah dong menjalani kehidupan mahasiswa dan perko-asan, apakah ada perbedaan diantara dua kehidupan itu dok?

dr : Jelas.

Bg: Boleh dong berbagi pengalaman dengan kita-kita yang masih hijau ini? Wah hijau daun? Mungkinkah ada perbedaan antara jadwal belajar, tugas-tugasnya, metode belajar, tantangan, serta waktu luangnya?

dr: Begini Bang, Belajar saat mahasiswa harus dilakukan dengan rutin. Dengan menggunakan silabus dan jadwal yang sudah ada, kita dapat mengetahui kuliah yang akan diberikan. Keuntungannya, kita dapat belajar terlebih dahulu bahan yang akan dikuliahkan. Sebelum kuliah harus prepare….. Lain dengan keh. ko-ass, jadwal belajar kita tidak terencana, walaupun kita sudah tau bagian yang akan kita masuki, namun kasus-kasus yang akan kita hadapi tak mungkin terjadwal. Biasanya kita belajar per kasus. namun pada umumnya, ko-ass tinggal melakukan review, karena semua kasus sudah diketahui teorinya saat perkuliahan.

Bg: Itu kalau saat kuliahnya nempel, biasanya semua sudah “diluar kepala” dok! he…he.. Bagaimana dengan tugas-tugasnya dok? Berat mana ko-ass atau mahasiswa?

dr : Wah, lagi mahasiswa tugas tuh jarang, tapi saat ko-ass, tugasnya lumayan.Dari mulai tugas jaga, sampai bikin status pasien. Nah yang satu ini yang paling malas, membuat data tentang status pasien.. Tugas jaga biasanya sampai malam, akibatnya jadwal belajar terganggu karena kecapean.

Bg : Wah repot juga ya, bagaimana dengan metode belajar, dok?

dr: Saat perkuliahan, saya melakukan PBL (problem base learning) sendiri, maklum jaman saya belum ada. Saya melakukannya dengan selalu bertanya “Mengapa……”, “Apa sih kegunaannya…..”. Satu-satunya kendala adalah text book. Namun, hal ini tidak menjadi masalah ketika menjai ko-ass. Saya belajar tidak menggunakan textbook, tapi dari kasus. Saya belajar setiap kasus yang saya temui, bahkan semua kasus yang ada dalam bangsal saya. Soalnya setiap ko-ass punya kasus tersendiri dalam satu bangsal (ruangan). Saya berpikir saya tidak mungkin bertemu dengan pasien dengan penyakit yang sama terus-menerus.

Bg : Hebat…. Pikiran Dokter memang jauh ke depan.

dr: Tapi banyak juga hambatan dalam belajar. Saat mahasiswa, belajar saya banyak terbuang di jalan karena saya bolak-balik menggunakan bus. Namun saat ko-ass, waktu yang tesisa sangat sempit, soalnya jam 7 harus sudah mulai periksa, plus jaga malam yang saat mahasiswa gak akan pernah ngalamin. Waktu yang tersisa pun akhirnya banyak dipakai untuk tidur(”substitution sleep”) pengganti waktu tidur yang terpakai.

bg: Dahsyat dok, tapi “pengorbanan” itu pantas untuk ilmu yang didapat. Terima kasih banyak dok, atas waktunya, saya mohon pamit karena masih tutorial. Terima kasih dok.

Demikian hasil wawancara penulis dengan Henhen dr., semoga bermanfaat. (Tapi mau curhat aja kalo sehabis wawancara, penulis datang terlambat ke ruang tutorial, alhasil, tutorku cemberut dengan wajah merah padam, tapi penulis hanya menatapnya dengan memelas mengharap belas kasihan untuk terus mengikuti tutorial. Nasib…nasib….)

* * * * *

Laporan Tias Yana P.

Mahasiswa pendidikan dokter pasti bakal ngalamin kehidupan menjadi mahasiswa PPSK atau S-1 dan mahasiswa P3D atau yang sering dikenal Koasisten. Dua kehidupan ini tentunya ada persamaan dan perbedaannya.

Namun, apa perbedaan dua kehidupan tersebut menurut sudut pandang seorang dokter? Untuk menggali informasi tentang hal ini, pada tanggal 3 April 2008, reporter dari grup Siap Jadi Dokter, yaitu Tias Yana mewawancarai Afiat Berbudi, dr., staf Biokim FK UNPAD. Berikut petikan wawancara yang dapat saya himpun:

 

Dok, sebenarnya berbeda gak pendidikan kedokteran antara mahasiswa S1 dan koas?

Pendidikan saat mahasiswa dengan koas sangatlah berbeda.

Kalo pendidikan koas gimana? Saat menjadi koas, saya merasa seolah-olah baru belajar kedokteran dari nol karena saat S1 hanya dicekcoki teori-teori tanpa pemahaman.

Lalu bagaimana perbedaannya dilihat dari kegiatan akademik?

Mahasiswa S-1 hanya kuliah dan praktikum, sedangkan koas ada bimbingan dengan preceptor atau konsulen, lalu jaga di poliklinik. Kalau sistem lama, koas sering dibimbing oleh residen dan lebih lama bertemu pasien daripada saat sistem baru.

Ada perbedaan ga mengenai tugas?

Tugas mahasiswa hanya tugas praktikum, kalau koas tugasnya lebih berat, ada ada CRS dan CSS juga BST. CRS, Case Report Session, kita buat laporan tentang pasien yang kita layanin mulai dari anamnesis. CSS, Case Science Session, kita buat makalah tentang suatu kasus mulai dari definisi, patfis, prevensi dan lain-lain. Nantinya CSS akan dipresentasikan saat bimbingan dan dibahas bareng konsulen. Tugas ini dibuat perkelompok. Satu kelompok itu sembilan atau sepuluh orang. Tiga orang buat satu CRS, tiga yang lain satu CRS juga, sisanya CSS. Kadang di suatu bagian kita disuruh buat CRS aja. Lalu ada BST, Bed Site Teaching, misalnya ada pasien DHF oleh satu kelompok dan konsulen datengin. Kita anamnesis dan PE, itu juga dicontohin oleh konsulen, ntar dijadiin CRS.

Lalu ada tugas jaga. Maksimal dua klai seminggu. Tapi kalo di bagian tertentu bisa tiga sampe empat kali tergantung jumlah koas.

Kalo jamnya lama mana?

Koas. Mahasiswa kuliah dari jam tujuh sampe jam tiga, tapi cuman dua kali seminggu, hari lain Cuma dua jaman. Kalo koas jam 7 sampe 2, senin sampe sabtu. Sekarang jam 7 sampe jam 4, senin sampe jumat.

Terus kalo ujiannya gimana?

Kalo S-1, ujian tertulis. Kalo koas ada SOCA dan ujian ke pasien gitu. Ujiannya si akhir stase, tapi sekarang ada kompre seluruh stase. Saya ga ngalamin. Kita datengin pasien lalu amanesis, dll, lalu kita presentasiin ke penguji.

Kalo tips ujian di koas?

Kalo sistem dulu, kita harus tau gambaran ujiannya dengan nanya ke senior biasanya tentang apa yang biasa ditanyain ke pasien. Dulu ujiannya menegangkan. Kalo sekarang buat SOCA, kita belajar aja dari lis case yang diujikan. Nah, kalo ujian ke pasien, kasusnya ga begitu susah, tapi langsung sampai pengobatannya, dan diawasi konsulen. Dulu jarang oleh konsulen, biasanya oleh residen.

Kalo pola tidur ada perubahan ga?

Sama aja kecuali kalo jaga.

Kalo kegiatan kemahasiswaan gimana?

Yang ada cuma dua UKM, AMP dan Asy-Syifaa’. Tapi biasanya koas ngurusin kegiatan kelompok aja.

Kalo petandingan olahraga?

Ga ada. Suka main futsal koas di YPKP.

Oh iya, kalo pendidikan di tiap bagian atau stase berapa lama?

IPD, Obgin, anak, bedah lebih lama, sembilan minggu. Yang lain tiga minggu. PH empat minggu, anestesi empat minggu kalo ga salah.

Berapa stase semua?

Sekitar 10 atau 12 stase. Total dua tahun.

Kalo spacing berapa lama?

Maksimal lima minggu, paling sedikit seminggu.

Kalo buku sakti yang dipake?

Jarang dipake buku mediadika. Sistem baru pake teksbook yang beneran lalu internet seperti emedicine.

Kalo peranan internet beda ga saat koas dg s-1?

Internet lebih berperan saat koas daripada saat mahasiswa.

Ada labkom ga di koas?

Ga ada tapi, tiap masing-masing bagian nyediain satu di ruang koas. Di mesko ada dua.

Kalo perpus?

Jarang dipake, ada di lantai empat gedung baru.

Kalo keamanan ada perbedaan ga?

RSHS ga aman, laptop yang di simpen di loker ruang koas bisa ilang, terutama alat seperti spigmo dan steto. Dipinjem residen juga ilang. Jangan ketinggalan pokoknya! Soalnya banyak orang di RSHS.

Kalo tempat makan?

Kalo waktu S-1 biasa makan di KOPMA, dulu rame. Kalo koas ada kantin seruni. Tapi biasanya makan di jalan Rumah Sakit. Kalo di depan (jalan Eijkman) itu buat keluarga pasien biasanya.

Waktu bukanya?

Kantin seruni dan depan buka 24 jam. Jalan Rumah Saki buka sampe jam dua.

Apa yang harus disiapin buat koas?

Stamina, mental. Karena kita di tempat orang, ada karyawan, bidan, perawat jadi kita harus sopan, sabar juga. Dulu, perawat, bidan kalo ada masalah suka marah ke koas karena koas kasta terendah. Kalo sistem baru lebih enak karena merasa dilindungi oleh konsulen. Residen suka sinis sama koas dan perawat ga berani.

Terus kalo alat yang disiapin?

Steto,spigmo, termometer digital, dan senter.

 

Comments»

1. dr. Taufiq M. W SpPD - January 10, 2009

Klik dhf-revolution.blogspot.com Untuk nambah wawasan.