Negeri Vs Swasta
Oleh : Dia Febrina
Assalamu’alaikum Teman-teman team medical apprentice
Bukan hal yang baru lagi kita dengar bahwa Fakultas Kedokteran adalah fakultas dengan biaya pendidikan terbesar dan termahal. Apalagi dengan peraturan sekarang bahwa setiap universitas diberi otoritas untuk mandiri sehingga seleksi penerimaan masuk mahasiswa baru dilakukan masing-masing selain jalur SPMB. Pasti anda sudah tahu jalur apa itu? Ya, jalur khusus jawabannya.Jalur masuk dengan biaya yang bisa 30 kali lipat dari biaya SPMB. Jalur masuk ini terlihat eksklusif bukan?Jalur masuk universitas yang hanya bisa dimasuki oleh orang-orang yang berduit.
Nah, pertanyaan saya sekarang adalah apakah dengan biaya masuk yang sebegitu besarnya akan menentukan kualitas dokter-dokter Indonesia di masa depan?Apakah dengan biaya pendidikan seperti itu akan terbentuk mental dokter yang materialistis?Saya sendiri belum tau jawabannya, mungkin ini penelitian cohort dan baru bisa terlihat beberapa tahun ke depan..
Saya pernah ikut magang bersama seorang dokter, anggap saja namanya dokter X.Dokter ini adalah tamatan sebuah universitas swasta dan terkemuka di Indonesia. Mungkin yang ada dalam pikiran anda dan saya adalah “fakultas kedokteran swasta pasti mahal sekali ya”, di universitas negeri saja sudah mahal, apalagi di universitas swasta..Si dokter X ini mengatakan bahwa “Uang saya yang dipakai untuk biaya kuliah 6 tahun harus bisa segera balik modal, caranya gimana? Ya, dengan menerapkan tarif mahal ke pasien”
Sejak saat itu saya berpikir, apakah nantinya dokter-dokter sewaktu berkuliah dengan biaya mahal akan jadi seperti itu? Apakah mereka salah kalau mereka berprinsip seperti itu?karena mungkin orang tuanya dahulu harus bekerja keras untuk membiayai kuliahnya dan sekarang waktunya untuk membalas usaha dan kerja keras orang tua.Tapi apakah dengan cara memungut tarif mahal pada pasien?
Saya tidak bermaksud untuk menyudutkan fakultas kedokteran dengan biaya mahal, tapi hanya menyampaikan apa yang pernah saya dengar. Belum tentu juga dokter dari universitas negri dengan biaya yang relative sedang akan menghasilkan dokter dengan mental yang baik. Semunya tergantung niat anda, maka luruskanlah niat anda sebagai seorang dokter dari sekarang, apakah akan menjadi dokter yang gila materi atau menjadi dokter yang berjiwa social tinggi? HAnya anda yang tau jawabannya..
Sering-sering nulis yah, daripada nulis di diary, mendingan kan di blog, biar banyak orang yang baca.
tulisannya bagus di
kayanya hampir sebagian besar mahasiswa kedokteran berpikiran gitu deh, akupun begitu.. gmn caranya bisa balik modal, gmn biar segera bisa bahagiain ortu..
salah satunya ya dari tarif pasien..
mudah2an dengan berbisnis kita bisa menghilangkan niat2 ‘jahat’ begitu yah..
semoga Allah melindungi kita semua dari perbuatan munkar, amin
xx, ichay
Kalau menurut saya, pelayanan kedokteran adalah pelayanan di bidang jasa.
Dokter memberikan pelayanan medis (konseling, terapi, pengobatan), pasien mendapat manfaat dan sebagai imbalannya dokter berhak mendapatkan upah..
Selama kita menerapkan tarif yang wajar, saya rasa sah-sah saja.
Tapi kita juga lihat kondisi sosioekonomi pasien, janganlah kita membebani pasien yang kurang mampu, alangkah baiknya kalau kita justru membantu.
Nah, dengan kita berbisnis, kita bisa membantu pasien2 yang demikian, yang memerlukan bantuan.
Bisnis bisa meningkatkan income seorang dokter..
Tapi bisnisnya seperti apa saya juga masih belajar..
Hehehe..
salam …. aku bukan anak kedokteran (jadi ga siap jadi dokter
adalah kenyataan yg susah di bantah, ga sedikit orang masuk kedokteran emang kejarannya adalah -meski ga semua kali- keleluasaan finansial :-p . Pedahal klo liat sejarah, dulu “anak2″ kedokteran termasuk salah satu pionir dalam upaya kebangkitan kesadaran akan kemerdekaan 
mengenai dokter X yg diceritakan, aku pikir banyak sekali de, bahkan rumah sakit juga aku liat lebih mengedepan sisi bisnisnya tinimbang sisi sosialnya -jadi inget lagu iwan fals-
Meski demikian aku yakin masih banyak dokter2 yg lebih mengedepankan sisi pengabdian tinimbang bisnis -positif thinking aja- semuanya kembali pada sikap mental dan keadaan ruhani masing2 ko. Jadi … selamat bekerja, kalian bisa jadi sosok yg kata Rasulullah saaw “khairunnass anfa-u-hum lin-nass” sebaik baik manusia adalah yg paling bermanfaat bagi manusia lainnya,
semoga.
salam
bagi saya selaku pasien bayar mahal gak masalah,,yang penting pelayanan memusakan dan keterangan yang di berikan dokter masuk akal gak kaya kasus ibu prita itu lho…keliatan banget seh dokternya bego dan mata duitan!!!Jadi mubazir kan biaya mahal-mahal kuliah di kedokteran tap kualitas dokternya jelek banget pantesan banyak yang berobat ke luar negri dan jasa orang pintar makin laku…
jadi lah dokter yang mulia!!!
Untuk menjadi seorang yang kaya raya GAK HARUS JADI DOKTER
tapi semuanya bisa berawal jadi DOKTER